Nilai tukar berada di level Rp18.115 per pada perdagangan Rabu (4/11) pagi. Mata uang Garuda menguat 45 poin atau 0,25 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China melemah 0,11 persen dan peso Filipina turun 0,01 persen.
Sementara itu, ringgit Malaysia menguat 0,04 persen, dolar Singapura naik 0,15 persen, yen Jepang terapresiasi 0,66 persen, won Korea Selatan menguat 0,53 persen, dan dolar Hong Kong naik 0,02 persen.
Di sisi lain, mata uang utama negara maju kompak menguat terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,40 persen, poundsterling Inggris menguat 0,38 persen, dolar Australia naik 0,09 persen, dolar Kanada terapresiasi 0,47 persen, dan franc Swiss menguat 0,66 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah berpeluang menguat seiring penurunan harga minyak mentah dunia dan pelemahan indeks dolar AS.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia akibat harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah, serta pelemahan indeks dolar AS karena antisipasi hasil pemilu paruh waktu di Amerika Serikat," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Meski demikian, ia menilai penguatan rupiah berpotensi terbatas karena sentimen di pasar saham domestik masih lemah.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.050 hingga Rp18.200 per dolar AS pada perdagangan hari ini.