Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut lonjakan impor barang modal serta bahan baku dan penolong menandai adanya ekspansi sektor manufaktur nasional.
Ia menyebut impor September 2026 didorong impor barang modal serta bahan baku dan penolong untuk mendukung peningkatan produksi dan pesanan baru industri nasional.
"Hal ini membuktikan bahwa impor yang terjadi sifatnya produktif dan merupakan penyebab utama bagi ekspansi sektor pengolahan dalam negeri," kata Budi dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Kinerja impor Indonesia pada September 2026 mencatatkan nilai 24,23 miliar dolar AS, naik 5,09 persen dibandingkan Agustus 2026 dan tumbuh 18,41 persen dibandingkan September 2025.
Kenaikan impor bulanan ini didominasi kuat oleh pertumbuhan impor barang modal sebesar 12,14 persen, disusul barang konsumsi yang naik 6,40 persen serta bahan baku dan penolong yang naik 3,12 persen secara bulanan.
Peningkatan impor September 2026 berbanding lurus dengan sektor manufaktur nasional yang ekspansif. Catatan ini selaras dengan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang melonjak dari 49,8 pada Agustus 2026 ke 52,4 pada September 2026.
Secara kumulatif Januari-September 2026, total impor Indonesia mencapai 210,63 miliar dolar AS, meningkat 19,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC) dengan 176,01 miliar dolar AS
Budi mengatakan seluruh komponen impor pun mencatatkan pertumbuhan positif di periode tersebut. Peningkatan tertinggi tercatat pada impor bahan baku dan penolong yang naik 21,11 persen, diikuti barang modal sebesar 16,49 persen, dan barang konsumsi sebesar 15,54 persen secara kumulatif.
Dari sisi komoditasnya, lonjakan impor nonmigas tertinggi selama Januari-September 2026 terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya yang melonjak sebesar 241,60 persen.
Selain itu, impor garam, belerang, batu, dan semen tumbuh 127,03 persen serta bijih logam, terak, dan abu naik 51,67 persen (CtC).
Berdasarkan negara asalnya, impor nonmigas Indonesia pada Januari-September 2026 masih didominasi China, Jepang, dan Australia dengan kontribusi gabungan mencapai 52,94 persen dengan nilai impor sebesar 94,27 miliar dolar AS.
Kemudian, negara asal impor nonmigas dengan pertumbuhan terbesar, antara lain, Prancis yang naik 122,95 persen, Rusia 54,78 persen dan Argentina 52,09 persen secara kumulatif.