Pacitan, Jawa Timur (ANTARA) - Kepolisian Resor (Polres) Pacitan bersama unsur TNI, pemerintah daerah, BPBD, dan relawan menyiagakan personel serta peralatan untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi selama musim hujan 2026-2027 di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Kesiapsiagaan tersebut ditandai dengan apel gelar pasukan dan peralatan di Lapangan Apel Polres Pacitan, Rabu, sebagai upaya memastikan kesiapan penanganan bencana sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat.
Wakapolres Pacitan Kompol Muchamad Mukid mengatakan apel tersebut menjadi momentum untuk memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana, serta mekanisme koordinasi antarlembaga dalam menghadapi kemungkinan bencana.
"Apel ini memastikan bahwa semua personel maupun peralatan siap saat ada bencana nantinya," katanya.
Ia mengatakan Jawa Timur memiliki potensi kerawanan bencana alam. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, sepanjang 2026 tercatat 672 kejadian bencana di berbagai wilayah Jawa Timur yang mengakibatkan 28 orang meninggal dunia, 55 orang luka-luka, serta kerugian material mencapai Rp7,552 miliar.
Pacitan menjadi salah satu wilayah yang turut menghadapi potensi ancaman bencana sehingga diperlukan langkah antisipasi melalui kesiapan personel dan peralatan.
Selain itu, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan 2026-2027 diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi memicu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur.
Mukid mengatakan pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah rawan bencana di Kabupaten Pacitan, terutama yang berpotensi mengalami banjir dan tanah longsor.
"Kami telah memetakan wilayah mana saja di Kabupaten Pacitan yang rawan bencana, baik itu bencana banjir maupun longsor," ujarnya.
Ia menegaskan penanganan bencana membutuhkan sinergi seluruh unsur terkait agar perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan secara optimal.
Menurut dia, kesiapsiagaan tidak hanya mencakup keberadaan personel dan peralatan, tetapi juga kemampuan berkoordinasi dan bergerak cepat ketika terjadi bencana.
"Kita harus bekerja sama untuk hadir di tengah-tengah masyarakat, bersinergi dan berkolaborasi demi tugas kemanusiaan ini," katanya.